Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Hutan Kelabu dalam Hujan
hutan kelabu dalam hujan
lalu kembali kusebut kaupun kekasih
langit dimana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan, rindu itu
temaram temasa padaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu, mengabut nyanyian
Senyum hujan
Kamis, 21 Maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Gerimis itu senyummu
Aku tak pernah mengharapkan mendapatkan moment spesial disaat aku berada di tengah hujan. aku lebih senang dan lebih memilih berjalan, menyusuri jalan yang tergenang air, sampai aku tahu nikmat dan nyamannya kaki dan basahnya celana jins ku terciprat air hujan yang dingin.
Aku tak pernah menyesal dikala aku tak ingat membawa payung. jika saja mandi hujan menjadi hal lumrah dan bukan menjadi suatu "tontonan" masyarakat, aku akan senang untuk selalu berpura-pura tidak ingat membawa payung. itu romantis.
romantis. bukan saja berarti adanya dua manusia yang gembira menikmati romannya cinta. romantis, bisa saya dapatkan antara saya dan senyum hujan. gerimis. saya jatuh cinta.
Aku tak pernah menyesal dikala aku tak ingat membawa payung. jika saja mandi hujan menjadi hal lumrah dan bukan menjadi suatu "tontonan" masyarakat, aku akan senang untuk selalu berpura-pura tidak ingat membawa payung. itu romantis.
romantis. bukan saja berarti adanya dua manusia yang gembira menikmati romannya cinta. romantis, bisa saya dapatkan antara saya dan senyum hujan. gerimis. saya jatuh cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)